Cara Agar Video TikTok HD, Jangan Sampai Jernih di Galeri Malah Burik di TikTok
Cara Agar Video TikTok HD, Jangan Sampai Jernih di Galeri Malah Burik di TikTok
Pernah mengalami video TikTok yang nasibnya menyedihkan? Waktu masih di galeri HP, jernihnya bukan main. Warna bagus, gambar tajam, muka juga lumayan manusiawi. Tapi setelah di-upload, mendadak burem. Detail hilang, tulisan pecah, rambut jadi kayak satu gumpalan.
Kalau pernah, berarti kita satu perjuangan, lur.
Tapi jangan langsung menyalahkan TikTok. Kualitas video bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari kamera, cahaya, proses editing, sampai pengaturan waktu upload. Jadi sebelum bilang HP sampeyan sudah minta pensiun, coba beberapa cara berikut.
Mulai dari kamera yang bersih.
Ini paling gampang. Sebelum merekam, lihat bagian lensa. Kalau ada bekas jari, debu, atau minyak, bersihkan dulu. HP itu sering dipegang setelah makan, naik motor, tidur, dan macam-macam. Jangan heran kalau kamera ikut kotor.
Lensa kotor bisa bikin gambar terlihat kurang tajam dan seperti ada kabut tipis. Padahal sebenarnya kameranya masih bagus.
Jadi sebelum dandan untuk video, kameranya juga didandani sedikit.
Lap pakai kain lembut.
Sudah.
Nggak perlu dibawa ke bengkel.
Setelah itu cari tempat yang terang.
Kamera HP paling senang kalau cahaya cukup. Kalau ruangan terlalu gelap, hasil rekaman bisa muncul noise dan detailnya berkurang. Wajah juga bisa terlihat kusam.
Kalau siang hari, manfaatkan cahaya dari jendela. Hadapkan wajah atau objek ke arah sumber cahaya. Kalau cahaya datang dari belakang, wajah bisa menjadi gelap.
Kalau malam, tambahkan lampu. Nggak harus lampu mahal. Lampu biasa pun bisa digunakan selama cukup menerangi objek.
Yang penting jangan bikin video di kamar gelap sambil cuma mengandalkan cahaya layar HP.
Itu bukan konten TikTok.
Itu uji nyali.
Kemudian perhatikan resolusi kamera.
Kalau HP menyediakan 1080p, bisa digunakan. Untuk banyak jenis konten TikTok, resolusi tersebut sudah cukup untuk menghasilkan video yang tajam.
Kalau ada pilihan lebih tinggi, boleh saja, tetapi sesuaikan dengan kemampuan HP. Jangan sampai mengejar resolusi tinggi malah membuat penyimpanan cepat habis atau proses editing menjadi berat.
Kita mau bikin video, bukan menguji ketahanan HP.
Kalau HP mulai panas, berhenti sebentar.
Kasihan.
Selanjutnya, jaga video supaya tidak goyang.
Kamera bagus kalau digerakkan sembarangan tetap bikin hasil kurang nyaman. Kalau punya tripod, pakai saja. Kalau tidak punya, gunakan meja, rak, atau benda lain yang kokoh.
Yang penting posisi HP aman.
Jangan taruh HP di atas tumpukan gorengan. Selain bikin minyak ke mana-mana, aromanya nanti masuk casing.
Kalau HP sampai jatuh ke wajan, kualitas HD tidak akan menyelamatkan keadaan.
Saat editing juga harus hati-hati.
Jangan merasa semakin banyak efek berarti semakin bagus. Kadang video yang diberi terlalu banyak filter malah terlihat kasar.
Misalnya brightness dinaikkan terlalu tinggi, warna dibuat terlalu kuat, sharpen dipaksa maksimal. Hasilnya bisa terlihat tidak natural.
Edit seperlunya saja.
Video agak gelap? Terangkan sedikit.
Warna pucat? Atur sedikit.
Kurang tajam? Tambahkan ketajaman secukupnya.
Jangan semua pengaturan dibuat maksimal.
Kayak sambal, kalau cabainya satu baskom ya bukan sambal lagi, itu tantangan hidup.
Berikutnya perhatikan saat ekspor video.
Setelah selesai edit, jangan asal menekan tombol simpan. Lihat pengaturan kualitasnya. Kalau tersedia resolusi tinggi, pilih yang sesuai dengan video asli.
Usahakan jangan menurunkan kualitas terlalu jauh hanya supaya ukuran file kecil. Memang file kecil lebih cepat dipindahkan, tetapi kualitas gambar juga bisa ikut turun.
Jadi lebih baik punya satu file hasil akhir yang bagus daripada banyak file kecil yang kualitasnya sudah berkurang.
Kemudian baru upload ke TikTok.
Sebelum posting, gunakan koneksi internet yang stabil. Kalau jaringan sedang jelek, tunggu sampai lebih lancar.
Periksa juga apakah tersedia pilihan kualitas tinggi atau HD pada pengaturan upload. Jika ada, aktifkan. Fitur dan posisi menu dapat berbeda tergantung versi aplikasi dan perangkat.
Jadi kalau punya teman yang menunjukkan menu berbeda, nggak perlu panik. Bisa saja aplikasinya memang tidak sama versinya.
Satu lagi yang penting, jangan terlalu sering memindahkan video lewat aplikasi yang melakukan kompresi. Misalnya video sudah selesai diedit, kemudian dikirim ke teman, di-download lagi, masuk aplikasi lain, disimpan lagi, baru di-upload.
Kalau prosesnya panjang begitu, kualitas file bisa berubah.
Lebih aman langsung gunakan file hasil ekspor terbaik.
Nah, dari sini sebenarnya kelihatan kalau bikin video HD itu bukan perkara satu tombol aja.
Ada prosesnya.
Mulai dari kamera.
Lalu cahaya.
Kemudian rekaman.
Setelah itu editing.
Lalu ekspor.
Terakhir upload.
Kalau salah satu bagian berantakan, hasil akhirnya bisa ikut turun.
Ibarat jualan gorengan, tepungnya bagus tapi minyaknya sudah hitam, ya hasilnya juga kurang mantap. Atau gorengannya sudah renyah tapi dibungkus saat masih kehujanan. Sampai rumah melempem.
Begitu juga video.
Jadi kalau ingin video TikTok lebih HD, jaga kualitas dari awal sampai akhir.
Nggak harus pakai HP mahal. Yang penting kamera bersih, cahaya cukup, resolusi sesuai, video stabil, editing tidak berlebihan, dan file akhir tidak terlalu sering dikompres.
Kalau semua sudah benar tapi hasilnya masih kurang jernih, barulah cek kemampuan perangkat atau masalah aplikasi.
Jangan langsung beli HP baru.
Dompet juga perlu dijaga.
Karena kalau HP baru ada, tapi uang buat makan habis, nanti yang HD cuma layar HP.
Perut tetap low resolution.
Jadi mulai sekarang, sebelum upload video TikTok, cek lagi semuanya. Biar penonton bisa melihat konten sampeyan dengan jelas tanpa harus menyipitkan mata.
Video jernih.
Konten menarik.
Upload lancar.
Kalau beruntung, masuk FYP.
Kalau belum, ya bikin lagi.
Namanya juga pedagang gorengan, lur.
Hari ini sepi bukan berarti besok nggak ada pembeli.
Begitu juga TikTok.